BAB 3
A. Kisah Abu Lahab
A. Kisah Abu Lahab
Setelah Nabi menyampaikan seruan Islam kepada kaumnya, Abu Lahab menghasut orang-orang Quraisy agar membenci Nabi. Bahkan ia mendatangi Abu Thalib, paman Nabi yang memelihara nabi sejak kecil. Abu Lahab mengancam Abu Thalib agar melarang Muhammad untuk menyebarkan agama Allah. Abu Thalib pun membujuk keponakannya itu untuk berhenti menyeru kepada ajaran Allah.
Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW berkata seraya mencucurkan air matanya, “Ya Pamanku, sekiranya matahari diletakkan di telapak tanganku dan bulan di telapak tangan kiriku supaya aku berhenti dalam melaksanakan dakwahku ini, aku tetap tidak akan meninggalkannya, sehingga Tuhan memberikan kemenangan atau aku celaka dalam mengerjakan ini. Jika tidak demikian, aku tidak akan meninggalkannya”.
Mendengar kata-kata Nabi, Abu Thalib menjadi kasihan kepada keponakannya itu. Ia tak sampai hati membuat keponakan yang ia sayangi itu bersedih. Akhirnya Abu Thalib kembali memanggil Nabi dan berkata, “Hai Muhammad, berbuatlah apa yang engkau kehendaki. Semoga engkau diselamatkan oleh Allah SWT selama-selamanya. Saya berjanji akan melindungi engkau dari perbuatan mereka itu”.
Abu Lahab merasa usaha pertamanya itu sia-sia dan tidak berhasil. Ia pun kembali kepada Abu Thalib dengan membawa orang-orang Quraisy. Selain itu ia membawa seorang pemuda tampan yang sebaya dengan Nabi bernama Ammarah bin Al-Walid bin Mugirah. Abu Lahab dan orang-orang Quraisy itu bermaksud menukarkan Muhammad dengan Ammarah.
Dengan demikian mereka dapat membunuh Nabi dan Abu T}alib dapat memelihara Ammarah. Mendengar hal itu, Abu T}alib sangat marah. Beliau tak gentar sedikitpun terhadap ancaman mereka. Ia berjanji akan selalu melindungi Nabi Muhammad.
Allah mengabadikan tentang diri Abu Lahab yang jahat dalam Al-Qur’an, yaitu terdapat dalam Surah Al- Lahab, surah ke-111 dalam Al-Qur’an.
Artinya:
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa;
2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan;
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak;
4. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar;
5. Yang lehernya ada tali dari serabut.
Nama asli Abu Lahab adalah Abdul Uzza bin Abdul Muttalib. Dia adalah paman dari Rasulullah SAW. Dia disebut Abu Lahab karena wajahnya yang mengkilap.
Pada suatu hari, Rasulullah mendatangi suatu kabilah untuk berdakwah. Ketika itu Abu Lahab mengetahuinya. Secara diam-diam dia mengikuti Rasulullah SAW. Setelah sampai di kabilah itu Rasulullah menyeru kepada mereka: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian. Aku menyeru kepada kalian supaya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Kalian percaya padaku dan lindungi aku sehingga aku datang melaksanakan tugas yang diberikan Allah kepadaku”
Tidak lama setelah itu, Abu Lahab segera berkata: “Hai Bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian meninggalkan Latta dan Uzza, dan sekutu- sekutu kalian dari golongan Jin dan Bani Malik bin Aqmas untuk mengikuti bid’ah dan kesepakatan yang dibawanya. Karena itu, janganlah kalian dengarkan dan kalian ikuti dia.”
Inilah salah satu contoh tipu daya Abu Lahab terhadap dakwah Islam dan Rasulullah. Karena kebencian Abu Lahab dan Istrinya kepada dakwah Rasulullah SAW, mereka tidak pernah berhenti memfitnah, menyakiti, dan mencelakakan Rasulullah SAW. Kisah Abu Lahab dan istrinya diabadikan di dalam Al-Qur’an pada surah Al-Lahab yang telah kamu baca sebelumnya.
B. Kisah Abu Jahal
Sama halnya dengan Abu Lahab, Abu Jahal juga salah satu paman dari Rasulullah. Nama asli Abu Jahal adalah Amr bin Hisyam bin Al-Mugirah Al-Quraisy. Perasaan iri dan dengkinya kepada Rasulullah membuat Abu Jahal berusaha untuk menghalangi dakwah Rasulullah dengan berbagai cara keji. Kebenciannya terhadap Rasulullah serta fitnah dan kejahatan yang dilakukannya melebihi apa yang dilakukan oleh Abu Lahab dan istrinya.
Melihat agama Islam semakin tersebar luas, Abu Jahal berkata kepada kaum Quraisy pada suatu perhimpunan sebagai berikut: “Hai kaumku! Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hati, ia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela Tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kalian semua bahwa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dilemparkan ke kepala Muhammad ketika ia sujud. Selepas itu, terserah kepada kamu semua, mau menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya dan biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa saja yang mereka sukai.”
Tatkala mendengar jaminan dari Abu Jahal, maka orang yang menghadiri perhimpunan itu serentak berkata padanya, “Demi Tuhan, kami tidak sekali-kali menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad, teruskan niatmu.” Mereka merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahwa dia akan mencelakai Muhammad, karena jika Abu Jahal berhasil mencelakai Muhammad maka hilanglah keresahan dan kesusahan yang disebabkan oleh kegiatan Rasulullah menyebarkan agama Islam.
Keesokan harinya dengan perasaan bangga Abu Jahal pun pergi ke Ka’bah, tempat di mana Rasulullah biasa melaksanakan shalat. Dengan langkah seperti seorang ksatria, dia membawa batu besar sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy. Dia mengajak kawan- kawannya untuk menyaksikan bagaimana nanti dia akan menghempaskan batu ke atas kepala Rasulullah SAW.
Setibanya di pekarangan Masjidil Haram, dia melihat Rasulullah baru saja sampai dan hendak melaksanakan shalat. Ketika Rasulullah tengah melaksanakan shalat, Abu Jahal berjalan dengan pelan-pelan dari belakang menuju arah Rasulullah SAW. Dia melangkah dengan hati-hati karena takut gerakannya diketahui oleh Rasulullah SAW. Dari jauh kawan-kawan Abu Jahal memperhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira, dalam hati mereka berkata: “Kali ini akan musnahlah engkau wahai Muhammad.”
Ketika Abu Jahal menghampiri Nabi Muhammad SAW dan hendak mengayunkan batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba dia terhempas kebelakang dan batu yang dipegangnya pun jatuh ke tanah. Mukanya yang merah menjadi pucat pasi seolah-olah tidak berdarah lagi, teman-temannya pun tercengang memandanginya. Kaki Abu Jahal seolah-olah terpaku ke bumi, tidak dapat melangkah walaupun setapak. Melihat kejadian itu, teman-teman Abu Jahal menariknya sebelum diketahui oleh Rasulullah SAW dan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Hai Abu Jahal? Kenapa kamu tidak menghempaskan batu itu ke kepala Muhammad SAW ketika ia sedang sujud tadi?” Abu Jahal membisu tidak dapat menjawab pertanyaan kawan-kawannya. Dia masih membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan dia sendiri tidak menyangka kejadian yang sama akan berulang pada dirinya.
Kejadian itu menimpa Abu Jahal ketika Rasulullah pergi ke rumah Abu Jahal karena mendapat laporan dari seorang Nasrani yang mengadu kepada Rasulullah bahwa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada waktu itu, Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa karena dia melihat di belakang Rasulullah ada dua ekor harimau yang menjadi pengawalnya.
Tersadar dari lamunannya, akhirnya Abu Jahal berkata: “Wahai sahabatku! Perlu kamu semua ketahui, ketika aku menghampiri Muhammad untuk menghempaskan batu itu ke atas kepalanya, tiba-tiba muncul unta yang besar hendak menendangku. Aku sangat terkejut karena belum pernah melihat unta sebesar itu seumur hidupku. Sekiranya aku teruskan niatku, niscaya matilah aku ditendang unta itu.”
Mendengar penjelasannya, rekan-rekan Abu Jahal sangat kecewa. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang selama ini gagah berani tidak dapat membunuh Nabi bahkan tidak dapat berbuat apa-apa. Merekapun berkata dengan perasaan heran:
“Ya Abu Jahal, semasa engkau menghampiri Muhammad tadi, kami memperhatikan engkau dari jauh tetapi kami tidak melihat unta yang engkau katakan itu, malah bayangannya pun tidak ada.” Sejak kejadian ini, teman-teman Abu Jahal tidak percaya kepadanya dan tidak lagi menghiraukan kata- katanya.
C. Kisah Musailamah Al-Kazzab
Musailamah adalah seorang penyair ulung dari Bani Hanifah. Nama aslinya adalah Maslama. Musailamah hidup di Yamamah (kini Arab Saudi Timur). Silsilahnya selalu dikaitkan dengan nama “Habib” dan ia mendapatkan julukan Abu Samama. Kedudukan Musailamah di Yamamah hampir sama dengan kedudukan Nabi SAW di Madinah karena kekuasaannya yang besar dan pengikut yang banyak.
Musailamah mengaku sebagai nabi dan menuntut penduduk Madinah mengakui kenabiannya. Ia pernah mengusulkan kepada Nabi Muhammad SAW agar mengakui kenabiannya dan membagi kekuasaan antara mereka berdua, serta memberikan kekuasaannya kepada Musailamah ketika beliau wafat. Kepada masyarakat golongannya, ia bersajak dan menirukan kata-kata dengan mencoba meniru Al- Qur’an. Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar Ash-Sidiq r.a mengutus panglima Khalid bin Walid untuk menekan gerakan Musailamah dan para pengikutnya di Yamamah. Dalam pertempuran ini Musailamah Al-Kazzab terbunuh dan tempat kematiannya dikenal dengan sebutan “Taman Kematian.” Di pihak muslimin wafatlah sekitar 700 syuhada. Di antara mereka terdapat sahabat Nabi Muhammad SAW dan penghafal Al-Qur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar