BAB 9
A. Meneladani Kegigihan Kaum Muhajirin
Kaum Muhajirin adalah kaum yang pertama kali beriman kepada Rasulullah. Mereka menegakkan ajaran Islam bersama Rasulullah, sehingga agama Islam dikenal ke seluruh Arab. Selama berjuang bersama Rasulullah, mereka mendapatkan cercaan, hinaan, dan siksaan dari kaum kafir Quraisy. Di antara mereka banyak yang kehilangan saudara, harta, bahkan nyawa. Walaupun demikian, mereka tetap mengikuti Rasulullah dan beriman kepadanya. Bahkan semakin besar cercaan, hinaan, dan siksaan yang mereka terima, semakin bertambah pula keimanan mereka kepada Rasulullah dan agama Islam.
Kebencian orang kafir Quraisy terhadap Kaum Muslimin mencapai puncaknya ketika mereka mengusir kaum Muslimin keluar dari Mekah. Rasulullah bersama para sahabatnya lalu memutuskan untuk berhijrah ke Taif. Sesampainya di Taif, rombongan Rasulullah tidak diterima dengan baik. Ketika Rasulullah menghadap para pemuka Bani Saqif, sebagai orang yang berkuasa di daerah itu, beliau ditolak dengan cara yang kasar. Mereka menyewa para penjahat dan para budak untuk menghina dan melemparinya dengan batu sehingga mengakibatkan cidera pada kaki Rasulullah dan juga para sahabat.
Menerima penolakan itu, Rasulullah dan para sahabat berniat kembali ke Kota Mekah. Saat itu sahabat Rasulullah yang bernama Zaid bin Harisah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Bagaimana engkau hendak pulang ke Mekah, sedangkan penduduknya telah mengusir engkau dari sana? Beliau menjawab, “ Hai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya.” Lalu Rasulullah SAW mengutus seorang laki-laki dari Khuza’ah untuk menemui Mut’am bin Adi dan mengabarkan bahwa Rasulullah SAW ingin masuk Mekah dengan perlindungan darinya. Keinginan tersebut diterima oleh Mut’am, sehingga Rasulullah dan para sahabatnya kembali ke Mekah.
Setelah kembali ke Mekah, kekerasan yang dilakukan kaum kafir semakin menjadi - jadi. Akhirnya Rasulullah mendapatkan kabar dari penduduk Madinah bahwa mereka bersedia untuk menjamin keselamatannya. Rasulullah SAW pun memerintahkan para sahabatnya untuk kembali berhijrah, yaitu ke negeri Madinah. Para sahabatnya pun berhijrah secara bergantian dan sembunyi-sembunyi, kecuali sahabat Umar bin Khattab yang berhijrah secara terang- terangan. Rombongan terakhir adalah rombongan Rasulullah dan sahabat Abu Bakar As-Siddiq, yang kemudian disusul oleh sahabat Ali bin Abu Thalib.
Sesampainya Rasulullah di perbatasan kota, rombongan Rasulullah telah ditunggu oleh penduduk kota Madinah. Bahkan mereka menunggu selama beberapa hari. Mereka menyambut Rasulullah dengan penuh suka cita diiringi oleh lantunan lagu.
Ketika Rasulullah dan para sahabatnya berhijrah menetap di kota Madinah, mereka memulai babak baru dalam dakwah Islam. Kaum Muhajirin adalah tonggak pertama dalam perjuangan ini. Mereka memegang peran penting dalam keberhasilan berdakwah. Mereka mempertaruhkan jiwa dan raga dalam menegakkan hukum-hukum Islam atau dalam pertempuran dalam rangka mempertahankan diri dari gempuran- gempuran orang kafir Quraisy. Sampai Rasulullah wafat, kaum Muhajirinlah yang meneruskan perjuangan dalam menyiarkan panji-panji Islam.
Karenanya kita sebagai penerus harus meneladani kegigihan kaum Muhajirin dalam menegakkan ajaran agama Islam. Mereka tidak gentar terhadap ancaman dan tetap tabah dalam menghadapi berbagai cobaan. Karena mereka yakin Allah akan selalu menolong hamba-Nya yang berjuang dalam menegakkan agamanya.
B. Meneladani Perilaku Tolong-Menolong Kaum Ansar
Ketika kaum Muhajirin pergi meninggalkan Mekah, mereka semua tidak membawa harta benda yang mereka miliki, demi menyelamatkan agama dan mendapatkan ganti berupa tali persaudaraan yang menanti di Madinah. Inilah gambaran yang benar tentang pribadi Muslim yang mengikhlaskan diri kepada Allah SWT. Mereka tidak mempedulikan tanah air, harta kekayaan, dan kerabat demi menyelamatkan akidah dan agamanya. Hal itulah yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah di Mekah.
Setelah Rasulullah SAW dan para sahabatnya sampai di kota Madinah, penduduk Madinah menyambutnya dengan suka cita, serta memberikan perlindungan dan pertolongan kepada mereka. Mereka memberikan separuh hartanya kepada kaum Muhajirin. Sebagian ada yang memberikan rumahnya kepada kaum Muhajirin jika mempunyai rumah lebih dari satu. Sebagian lagi ada yang memberikan seluruh ternaknya untuk kepentingan kaum Muhajirin..
Sungguh kaum Ansar telah menunjukkan teladan yang baik tentang Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan cinta karena didasari keinginan untuk menegakkan agama Allah SWT. Karena inilah persaudaraan mereka menjadi kuat bahkan melebihi persaudaraan nasabiah (persaudaraan karena hubungan darah).
Dari kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesama kaum Muslim wajib memberikan pertolongan, sekalipun berlainan negara. Dalam hal ini para imam dan ulama sepakat bahwa kaum Muslim yang mampu, wajib menyelamatkan kaum Muslim yang tertindas, ditawan, atau dianiaya di mana saja berada. Jika mereka tidak melakukannya, maka mereka berdosa besar.
Seperti itulah yang seharusnya kita lakukan, karena sesama Muslim bagaikan satu tubuh, apabila ada teman kita yang mengalami sakit maka seharusnya kita pun merasakan sakitnya dan berusaha untuk mengobatinya. Apabila saudara kita mendapatkan musibah kita pun harus bersegera membantunya. Sikap saling membantu akan mendatangkan rasa kecintaan yang tinggi sehingga tidak ada lagi permusuhan dan peperangan di antara manusia.
Sudahkah kalian berbuat tolong- menolong sesama teman? Apabila ada teman sekelasmu meminjam barang milikmu, jangan ragu-ragu untuk meminjamkannya. Begitu juga bila ada temanmu yang sakit atau terkena musibah, segeralah menolongnya sesuai dengan kemampuanmu. Anak yang suka menolong akan disukai oleh teman-teman dan dicintai Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar