Halaman

Rabu, 28 November 2018

MATERI PELAJARAN PAI KELAS 6 SEMESTER 2 BAB 6

                                 BAB 6

A. Membaca dan Mengartikan Surah Al-Maidah Ayat 3
Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 3 merupakan ayat Al-Qur’an yang paling terakhir turun. Ayat ini diturunkan di Madinah pada tanggal 9 Dzulh{ijah tahun 10 H, yaitu ketika Rasulullah melaksanakan Haji Wada’. Haji Wada’ adalah haji perpisahan.
Al-Maidah berarti hidangan. Surah Al-Maidah ayat 3 berisi penjelasan Allah SWT mengenai makanan dan binatang yang diharamkan untuk dimakan, serta pernyataan Allah SWT bahwa agama Islam telah disempurnakan. Tahukah kamu cara membaca surah Al-Maidah ayat 3? Coba ikuti bacaan gurumu dengan fasih dan benar!
Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, dan daging babi, (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan anak panah (karena) ini suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa (untuk mengalahkan) agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku rida{ i Islam menjadi agama bagimu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena kelaparan bukan karena ingin berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kandungan Surah Al-Maidah ayat 3
Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, jenis-jenis makanan yang diharamkan adalah sebagai berikut:
1. Bangkai, darah, daging babi, dan daging binatang buas.
2. Daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah SWT.
3. Daging hewan yang disembelih untuk dipersembahkan kepada berhala.
4. Daging hewan yang mati tercekik, dipukul, ditanduk, diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelih.
5. Daging hewan yang dipotong dari bagian tubuh hewan yang masih hidup.
6. Diharamkan oleh hadis, seperti ular, gagak, binatang yang bertaring, yang berkuku tajam, yang hidup di dua alam (amfibi), misalnya buaya, katak dan kepiting, akan tetapi dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Wallahu’alam
Selain itu, dalam ayat ini juga dijelaskan hal-hal berikut:
1. Allah SWT telah menjadikan Islam sebagai agama yang sempurna dan diridhai.
2. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
B. Membaca dan Mengartikan Surah Al-Hujurat Ayat 13
Surah Al-Hujurat diturunkan di kota Madinah setelah Surah  Al-Mujadilah.  Al-Hujurat  berarti  kamar–kamar. Pernahkah  kamu  membaca  Al-Hujurat ayat  13?  Cobalah ikuti bacaan gurumu dengan fasih dan benar
Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki–laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan amu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Surah  Al-Hujurat  ayat  13  menjelaskan  bahwa manusia tercipta dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Contohya, kamu ada karena ayah dan ibumu bukan? Selain itu, manusia diciptakan Allah SWT dengan suku dan bangsa yang berbeda-beda. Coba saja kamu perhatikan teman sekelasmu. Mungkin mereka ada yang berasal dari suku Jawa, Sunda, Sumatera, Batak, dan suku-suku lainnya. Mungkin juga ada yang berasal dari bangsa lain, misalnya Eropa, Amerika, atau Afrika. Karenanya, bentuk wajah, warna kulit, dan adat kebiasanya pun berbeda-beda. Semua itu Allah ciptakan agar sesama manusia dapat saling mengenal satu sama lain. Bayangkan jika manusia diciptakan dengan rupa dan sifat yang sama, tentu kamu akan sulit mengenali orang lain bukan?
Siapakah manusia yang paling mulia di hadapan Allah SWT? Apakah manusia yang berasal dari suku bangsa Arab atau suku tertentu lainnya? Ternyata kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT bukan berasal dari suku atau bangsa Arab atau tertentu lainnya. Ternyata kemuliaan seorang manusia di hadapan Allah SWT bukan berasal dari suku atau bangsa tempat asalnya, melainkan dari tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT, baik ia berasal dari suku Sunda, Jawa, berkulit putih atau berkulit sawo matang. Sudahkah kalian menjadi anak yang bertakwa? Anak yang bertakwa rajin beribadah, membantu orang tua, dan rajin menuntut ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar